Lumajang (humas) Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Lumajang menggelar Focus Group Discussion (FGD) Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan pada Rabu, 9 Juli 2025, bertempat di aula Kankemenag Lumajang. Kegiatan ini diikuti oleh unsur kepala KUA, penyuluh agama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan LDII.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kankemenag Lumajang Achmad Faisol Syaifullah, Kasubbag TU, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ketua LDII Lumajang, serta pejabat terkait lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Hidayatullah yang juga Kepala Seksi Bimas Islam Kankemenag Lumajang menjelaskan bahwa FGD ini merupakan rangkaian kegiatan maraton yang dilaksanakan di beberapa kabupaten di Jawa Timur, di antaranya Lumajang, Banyuwangi, Situbondo, dan Ponorogo. Kegiatan ini bertujuan memperkuat deteksi dini terhadap potensi konflik sosial berdimensi keagamaan di tengah masyarakat.

Hidayatullah menyebutkan, kegiatan ini melibatkan 64 peserta dari unsur Kemenag maupun non-Kemenag. “FGD ini menjadi sarana untuk mengidentifikasi potensi konflik, terutama yang berkaitan dengan pemahaman keagamaan di internal umat beragama maupun antarumat beragama. Diharapkan para peserta aktif mengisi daftar hadir dan mengikuti kuisioner sebagai bahan evaluasi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kankemenag Lumajang Achmad Faisol Syaifullah dalam sambutan sekaligus arahannya menekankan pentingnya peran ASN Kemenag sebagai moderator umat beragama. “ASN Kemenag harus mampu meredam potensi konflik sejak dini, menjaga harmoni antar dan intern umat beragama, serta memberi kesejukan di tengah masyarakat,” tuturnya.

Achmad FaisolSyaifullah juga mengapresiasi perputaran jabatan di lingkungan Kankemenag Lumajang, termasuk penunjukan Hidayatullah sebagai Kepala Seksi Bimas Islam yang baru. Ia berharap seluruh jajaran dapat terus bersinergi dan memperkuat substansi moderasi beragama di Lumajang.

“Kita harus mampu membaca potensi konflik, menjaga agar isu-isu keagamaan tidak mudah dipelintir, serta memunculkan jiwa moderasi dalam diri kita. Penyuluh harus aktif dan memiliki inisiatif di wilayah kerja masing-masing, serta mempublikasikan setiap kegiatan melalui media sosial sebagai wujud keterbukaan informasi publik,” pungkasnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan jajaran Kemenag dapat semakin sigap mendeteksi potensi konflik sosial keagamaan sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan toleran.(IJ/AG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *